Jumat, 01 September 2017

Memaknai Iedul Fitri

Alhamdulillah, puji syukur atas segala nikmat_Nya yang tak terhingga dan yang paling utama dari sekian banyak kenikmatan maka nikmat iman dan islam merupakan nikmat yang paling agung.
Sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sebaik-baiknya makhluk Allah SWT yang apabila Nur_nya tidak diciptakan karena rahmat Allah SWT niscaya seluruh ciptaan tentu tidak akan terwujud.
Memaknai tentang esensi daripada hari raya baik iedul fitri maupun iedul adha tentu kita akan kembali menelusuri siroh yang telah tercoret daripada perjalanan kehidupan ini, sekian banyak para tokoh Islam baik para Kiayi maupun para Asatidz banyak sekali menjelaskan tentang makna esensi dari pada hari raya tersebut, seperti halnya iedul adha maka kita akan teringat dengan sejarah daripada Bapak para Nabi yakni Nabiyulloh Ibrohim AS yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangan nya yakni Nabiyulloh Ismail AS, atau bila kita mendengar tentang makna dari pada iedul fitri maka kita akan di ingatkan tentang bagaimana supaya diri kita kembali pada fitrah sebagai manusia (hamba Allah SWT).
Dari sekian banyak hikmah-hikmah yang disampaikan oleh para tokoh islam tentu hal tersebut sudah sangat populer diperdengarkan kepada khalayak masyarakat, tentu hal tersebut sudahlah sangat tidak asing bagi masyarakat muslimin diseluruh dunia. Namun ada hal yang harus digaris bawahi didalam memaknai hari raya itu sendiri agar masyarakat tidak hanya terkungkung oleh pemahaman yang sempit sehingga mengaburkan makna yang dalam dari pada hikmah hari raya itu sendiri.
sudah sangat di maklumi oleh semua masyarakat muslimin khususnya di tanah air di dalam mengisi rutinitas yang biasa dilakukan oleh mereka tatkala tiba hari raya, selain dari pada mempersiapkan atribut, kostum / pakaian untuk berhias di hari raya, membayar zakat fitrah lalu sholat berjama'ah dan di tutup dengan mushofahah (bersalaman) saling bermaaf-maafan. ada hal yang unik di masyarakat kita ini ketika mereka melakukan rutinitas yang baik tersebut (bersalam-salaman) khususnya bagi mereka yang memiliki permasalahan secara sosial sehingga menimbulkan permusuhan, ketika makna dari pada saling memaafkan itu sendiri, akan tetapi tidak sepenuhnya menghadirkan kerendahan serta masih menyimpan rasa dendam dan saling dengki satu sama lainnya, sungguh ini adalah sebuah musibah. Sehingga makna inti dari pada kembali ke fitrah itu sendiri belum sepenuh nya lahir. bisa jadi lahir makna kembali pada fitrah itu sendiri akan tetapi hanya bermakna secara lahiriyah sehingga yang timbul bukanlah sebuah pengakuan diri yang tak luput dari khilaf dan kesalahan, akan tetapi cukup hanya mengikuti tradisi saja dan enggan untuk menghadirkan bathin mereka.
Maka didalam memaknai dari pada hari raya itu sendiri khususnya iedul fitri tentu bukan hanya sekedar tradisi dhohiriyah saja akan tetapi perlu adanya keikut sertaan bathin agar mendapatkan derajat fitrah yang sebenarnya, yakni menunduk kan nafsu diri kita yang senantiasa membawa kepada kesesatan serta menipu dan melenakan, sudah sangat diakui dan dimaklumi pembuatan tradisi saling memaafkan sangatlah memiliki nilai yang sangat besar bagi masyarakat dan ini merupakan atsar dari pada leluhur kita yang memegang teguh ajaran Islam sepenuhnya, tentu mereka akan merasa sedih bila peninggalan itu hanya sebuah formalitas dengan tanpa adanya makna yang sebenarnya yakni hadir nya kerendahan hati dengan mengakui kelemahan akan diri. (wallohu a'lam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ya Nabinal Hadi

{ يَا نَبِيْنَا الْهَادِي } يَا نَبِيْنَا الْهَادِي الْعَدْنَانِ   يَا سِرَّ نُوْرِ الْأَكْوَانِ       أَعْطِفْ عَلَيَّ وَارْ...